container rowdiv id=

Konsep Energi Sosial Kreatif dalam Penyuluhan Pembangunan

Konsep Energi Sosial Kreatif dalam Penyuluhan Pembangunan

Ilmu penyuluhan pembangunan merupakan ilmu yang mempelajari atau mengembangkan bagaimana merubah perilaku orang untuk berubah dalam mewujudkan kesejahteraannya. Salah satu Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof.Dr.Ir.Sumardjo, MS tertarik untuk mendalami tentang ilmu penyuluhan pembangunan ini.

Ketertarikan Prof.Sumardjo pada ilmu penyuluhan pembangunan karena melihat belum maksimalnya fungsi penyuluhan di Indonesia. Menurutnya banyak penemuan berguna dari para peneliti yang masih kurang termanfaatkan karena kurangnya penyuluhan. “Ini bukan lagi masalah teknologinya tapi orang mau memakai teknologi itu atau tidak,” ujar Dosen Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB ini.

Menurut Prof.Sumardjo penyuluh seharusnya dapat memahami kebutuhan masyarakat (real need) dan kebutuhan yang dirasakan masyarakat (feel need), karena masyarakat cenderung meminta berdasarkan kebutuhan yang dirasakan bukan kebutuhan yang sebenarnya.

“Penyuluhan seharusnya menyentuh real need-nya masyarakat, temukan lalu dijadikan feel need melalui komunikasi dan dialog yang tidak menggurui, hingga masyarakat sadar bahwa real neednya lah yang sebenarnya dibutuhkan,” ungkapnya.

Prof.Sumardjo pun menegaskan bahwa dalam penyuluhan tidak ada paksaan tapi adanya perubahan sukarela. Masyarakat perlu merekayasa hidupnya sendiri berdasarkan kesadaran dirinya sendiri bukan direkayasa oleh penyuluh. Saat ini Prof.Sumardjo telah mengembangkan konsep ilmu penyuluhan pembangunan Energi Sosial Kreatif. Dalam konsep energi sosial budaya kreatif dikenalkan tentang tiga prisnsip yaitu; Ideal, Ideas dan Friendship.

“Prinsip “Ideal” ini menunjukan bahwa yang bersangkutan harus mempunyai bayangan kondisi ideal yang diinginkan itu seperti apa, setelah itu akan muncul “Ideas” bagaimana cara kreatif untuk mewujudkan kondisi idealnya. Dengan munculnya kreatifitas maka akan tahu harus berteman atau bermitra dengan siapa agar hal yang diimpikan tersebut tercapai inilah “Frienship”,” jelasnya. Konsep yang dikembangkan telah sesuai dengan budaya Indonesia dan saat ini telah banyak diterapkan di masyarakat. “Tiap tahun kami tularkan ilmu itu, salah satunya di Kemenpora. Saat itu kita melatih wirausahawan muda yang mendampingi petani di daerah. Selain itu juga dalam kajian resolusi konflik, misalnya di Papua, kami berdayakan masyarakat,” pungkasnya.(RF)