container rowdiv id=

Kelompok Jamur Merang “Cyber” Rintis Bibit Jamur Merang Mandiri

Kelompok usaha jamur merang di Desa Sukamulya Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, tengah mengujicoba pengembangan  bibit jamur guna mengurangi ketergantungan pada bibit siap tanam yang diproduksi oleh produsen besar. Uji coba pengembangan bibit secara mandiri ini dirintis sejak Januari 2016 pada ‘laboratorium’ yang sangat sederhana. Hingga saat ini, pihak pendamping kelompok usaha ini sudah berhasil mengembangkan bibit sampai pada tahap F2 (turunan kedua).

“Bibit ideal untuk menghasilkan jamur merang yang baik adalah yang sudah tahap F2 atau F3,” kata Community Development Officer PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field, Achmad Rivano Tuwow, di Kampung Eco Green, Kecamatan Cimalaya, pekan lalu.  Uji coba selama ini menunjukkan 80% bibit yang dikembangkan dari turunan pertama berhasil berkembang menjadi bibit turunan kedua. Selanjutnya bibit F2 ini akan diujicoba ditanam di kumbung untuk melihat kualitas produksinya.

Kampung Jamur Merang ini merupakan kelompok usaha binaan PT Pertamina EP Asset 3 Subang Field bekerjasama dengan CARE LPPM IPB.  Achmad menjelaskan kelompok usaha jamur merang saat ini memiliki 16 kumbung yang dikelola oleh dua kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 16 orang. “Kebutuhan bibit tergantung luas kumbungnya, rata-rata butuh 40 sampai 60 baglog per kumbung. Harga bibitnya sekitar Rp4.500 sampai Rp9.000 baglog yang dibeli dari produsen bibit siap tanam,” tuturnya.

Saat ini, produksi jamur merang per hari dari seluruh kumbung berkisar 20 kg – 30 kg kualitas super dengan harga Rp28.000 per kg. Produksi ini jauh lebih rendah dari permintaan pasar yang datang langsung ke lokasi kumbung. “Ada restoran sea food yang butuh jamur merang 50 kg setiap harinya. Terus terang kami belum sanggup memenuhinya.”

Dia mengemukakan pengembangan jamur merang membutuhkan keuletan dari anggota kelompok usaha supaya menghasilkan kualitas jamur yang baik dengan jumlah yang memadai. “Selama ini ada kelompok yang berhasil, tetapi juga ada yang gagal dan akhirnya tidak meneruskan usaha jamur merang. Semuanya tergantung keuletan dan keseriusan anggota,” ujarnya.

Program kampung jamur merang ini dimulai pada 2013 dengan jumlah kumbung pada tahap awal dua unit. Pengelola kumbung ini adalah kelompok Sentosa beranggotakan 10 orang, yang kemudian melakukan replikasi kumbung sehingga berkembang menjadi 13 buah. Pada 2015, kelompok ini berinovasi dalam penggunaan blower untuk proses sterilisasi kumbung sehingga waktu untuk proses tersebut yang awalnya 12 jam berkurang menjadi 10 jam dan menurunkan biaya penggunaan kayu bakar.

Selama ini, permasalahan yang menimpa usaha jamur merang adalah seringnya kegagalan produksi jamur dikarenakan cuaca dan juga bibit. Permasalahan bibit yang menimpa pada 2015 mendorong kelompok di kampung jamur merang menginisiasi pembibitan mandiri. Akan tetapi kelompok belum mampu memproduksi bibit secara massal untuk dikomersilkan (sumber: http://industri.bisnis.com/)