|
Sejak tahun 2006, Indonesia resmi menggeser posisi Malaysia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Ironisnya, meskipun telah beberapa tahun berada di puncak klasemen produsen kelapa sawit, hingga saat ini Indonesia masih belum menerapkan suatu standar baku bagi operasional usaha kelapa sawit. Hal ini kemudian disadari oleh pemerintah sebagai titik kritis yang akan berdampak negatif terhadap kekuatan Indonesia dalam perdagangan kelapa sawit dunia. Kebutuhan terhadap standar baku dalam pengelolaan praktik bisnis kelapa sawit tersebut kemudian semakin dianggap penting setelah diberlakukannya standardisasi oleh Konferensi Minyak Sawit Lestari (Roundtable on Sustainable Palm Oil/RSPO).
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertanian mulai menggarap konsep standardisasi usaha kelapa sawit pada tahun 2010 silam. Keseriusan terhadap standar tersebut kemudian dibuktikan dengan peresmian Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) melalui Permentan No.19 tahun 2011 tentang Sertifikasi Standar Minyak Sawit Berkelanjutan. Di masa mendatang, sertifikasi ISPO akan bersifat sebagai mandatory (kewajiban) bagi setiap pelaku usaha kelapa sawit di Indonesia.
Sehubungan dengan pemberlakuan sertifikasi ISPO pada tahun 2014, maka diperlukan sosialisasi kepada para pihak terkait. Sebagai bentuk dukungan terhadap Kementerian Pertanian, Pusat Kajian Resolusi Konflik dan Pemberdayaan (CARE) IPB berinisiatif mengadakan sosialisasi ISPO melalui penyelenggaraan workshop bertema “Strategi Penerapan Indonesian Sustainable Palm Oil sesuai Permentan No. 19 Tahun 2011 Tentang Sertifikasi ISPO”. Penyelenggaraan workshop tersebut menuai apresiasi positif dari berbagai pihak, baik pelaku usaha, asosiasi petani, maupun Kementerian Pertanian. Selain itu, workshop tersebut turut pula mendatangkan kebanggaan dan kehormatan tersendiri bagi CARE IPB selaku pionir dalam sosialisasi ISPO.
Penyelenggaraan workshop dibagi ke dalam dua angkatan yaitu angkatan I pada tanggal 23 – 24 Juni 2011 dan angkatan II pada tanggal 7 – 8 Juli 2011 (Angkatan II). dengan bertempat di Ruang Intercafe – Kampus IPB Baranangsiang. Sejumlah 25 orang peserta yang hadir dalam kedua workshop tersebut berasal dari berbagai kalangan meliputi perusahaan swasta, konsultan, BUMN, dan serikat petani. Turut hadir sebagai narasumber dalam kegiatan workshop adalah Rismansyah Danasaputra selaku Direktur Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian. Selain itu, workshop tersebut turut pula ditunjang oleh sejumlah narasumber ahli yaitu Prof. Tien Muchtadi (Ketua Masyarakat Perkelapa-Sawitan Indonesia/MAKSI), Prof. Rizal Syarief (Guru Besar IPB), Prof. Sumardjo (Kepala CARE IPB), serta Dr. Latief M. Rachman (Konsultan Perkebunan, Tenaga Ahli CARE IPB). Melalui berbagai tutorial yang diberikan oleh para narasumber, diskusi interaktif, studi kasus serta praktek simulasi, para peserta diarahkan untuk dapat memahami prinsip, indikator, serta strategi penerapan ISPO demi terciptanya pengembangan kelapa sawit secara. berkelanjutan.
|