container rowdiv id=

CARE IPB rutin berikan edukasi pengelolaan sampah

Bank Sampah Serbaguna Karanganyar Goes To School

Bank Sampah Serbaguna Karanganyar Goes To School

CARE LPPM IPB bersama Kelompok Bank Sampah Serbaguna Karanganyar (BSSK) dan PT Pertamina EP Asset 3 Jatibarang Field menggelar program edukasi mengenai pengelolaan sampah ke sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 2 November 2019 di SDN Karanganyar 1, Indramayu.

“Kegiatan ini rutin diselenggarakan sebulan sekali di sekolah tingkat dasar hingga menengah se-Kecamatan Kandanghaur, Indramayu. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi kegiatan CSR Pertamina EP Jatibarang Field bekerjasama dengan CARE LPPM IPB”, demikian papar Adi Firmansyah, peneliti dan ketua divisi pemberdayaan masyarakat CARE LPPM IPB.

Materi edukasi ini disampaikan oleh tim pendamping CARE LPPM IPB bersama pengurus Bank Sampah Serbaguna (BSSK) Karanganyar, Indramayu. Materi berisi tentang macam-macam pengelolaan sampah dan dampaknya jika tidak ada pengelolaan sampah, konsep 3R pengenalan bank sampah, serta praktik membuat ecobrick

“Program Edukasi Sampah ini bertujuan mengenalkan siswa sekolah dalam pengelolaan sampah dengan konsep Re-use, Re-duce, Re-cycle (3R). Re-use berarti menggunakan kembali sampah sampah yang masih bisa digunakan atau bisa berfungsi lainnya. Re-duce berarti mengurangi segala sesuatu yang mengakibatkan atau memunculkan sampah. Re-cycle artinya mengolah kembali sampah atau daur ulang menjadi suatu produk atau barang yang dapat bermanfaat”, demikian penjelasan Winar, salah satu pendamping masyarakat CARE LPPM IPB.

Acara dimulai pukul 07:00 diikuti oleh 50 orang siswa kelas 4 dan 5. Seluruh siswa antusias mengikuti kegiatan ini. Pihak sekolah sangat mendukung kegiatan ini, karena program ini sejalan dengan rencana program sekolah yang ingin siswa-siswanya mengenal dan membuat ecobrick di sekolah.

Praktik membuat ecobrick dipandu oleh tim pendamping dan tim BSSK dengan duduk melingkar membuat kelompok masing-masing berjumlah 5-10 orang dan berlangsung selama 1 jam. Beberapa siswa berhasil menyelesaikan ecobrick, kemudian botol yang sudah terisi padat dirangkai Ketua BSSK, Bapak Surya menjadi sebuah kursi jongkok kecil.

Selanjutnya ada sesi diskusi dan pembagian doorprize untuk tiga orang siswa yang mampu menjawab pertanyaan dari pemateri. Para siswa juga ditugaskan melanjutkan membuat ecobrick sebanyak-banyaknya di rumah. Tim pendamping dan tim BSSK akan terus melakukan monitoring mingguan dan memandu merangkai ecobrick.

Kepala Sekolah SDN Karanganyar 1, Ibu Eli mengungkapkan, dirinya berharap seluruh guru dan siswanya semakin terdorong memiliki inisiatif dan kesadaran yang tinggi untuk mengatasi masalah sampah di sekolah. Beliau ingin program tersebut berkelanjutan dan  ecobrick dapat bermanfaat di sekolah. (wnf)